Contoh Rangkaian Relay Sederhana

Posted on

Rangkaian relay adalah sirkuit elektronika yang berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan arus listrik. Sirkuit ini sama seperti saklar konvensional biasa yang sering kita gunakan pada instalasi listrik. Hanya saja mekanisme untuk menggerakkan saklar diganti menggunakan sinyal atau tegangan listrik.

Sirkuit relay banyak digunakan pada berbagai rangkaian elektronika dan kelistrikan untuk mengendalikan kerja motor listrik maupun lampu. Dengan menggunakan relay, kita tidak lagi khawatir terkena bahaya sengatan listrik akibat komponen saklar yang bocor. Karena mekanisme pengendali aliran arus listrik dilakukan dengan tegangan yang rendah.

Di artikel ini kita akan belajar membahas apa itu relay dan contoh rangkaiannya yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan.

Mengenal relay

Komponen utama dari sirkuit relay adalah komponen relay. Relay adalah komponen elektronika yang terdiri dari kumparan induktor dan mekanisme switch atau saklar.

Kumparan induktor pada relay berguna untuk membangkitkan medan elektromagnetik yang akan menarik tuas switch saat diberikan aliran listrik. Mekanisme tuas switch tersebut yang mengendalikan aliran arus listrik, apakah tersambung atau terputus.

Tegangan listrik yang dibutuhkan kumparan relay untuk menghasilkan medan magnet bermacam macam, mulai dari 5V hingga 24V DC. Sementara untuk relay AC memerlukan tegangan AC 220V untuk kumparannya.

Pos Terkait:  Skema Transistor BD139 Sebagai Saklar

Jenis relay

Relay memiliki banyak jenis dan ukuran yang berbeda beda sesuai dengan kebutuhan. Pada jenis relay elektronika arus rendah, biasanya membutuhkan tegangan maksimum 12V.

Jumlah pin switch relay bervariasi, mulai dari 3 pin hingga 6 pin.

Rangkaian relay dan cara kerjanya

Di bawah ini merupakan contoh rangkaian relay yang menggunakan satu buah transistor sebagai drivernya. Transistor yang digunakan bisa dari jenis NPN maupun PNP. Anda tinggal menyesuaikan pemberian bias tegangannya saja.

Contoh rangkaian relay
  • Saat basis transistor tidak menerima bias tegangan, maka transistor dalam kondisi Off
  • Hambatan pada kolektor – emitor transistor sangat besar. Transistor berperilaku seperti saklar terbuka
  • Arus listrik dari Vcc tidak dapat mengalir melewati kumparan relay
  • Ketika basis transistor diberikan tegangan bias, maka transistor akan mulai aktif
  • Hambatan pada kolektor – emitor transistor menjadi sangat kecil sehingga memungkinkan dilewati oleh arus listrik
  • Arus listrik Vcc mengalir melewati kumparan relay dan kolektor – emitor
  • Karena kumparan mendapatkan arus listrik, maka akan muncul medan magnet yang akan menarik tuas switch
  • Relay akan kembali Off jika tegangan bias basis transistor diputuskan

Besar tegangan bias yang dibutuhkan oleh basis transistor cukup keci, sekitar 2V sampai 5V saja. Dengan tegangan bias sekecil itu, transistor dapat menggerakkan relay untuk mengalirkan tegangan yang jauh lebih besar.

Pos Terkait:  Membuat Rangkaian Power Supply

Transistor yang digunakan untuk membuat rangkaian relay dapat disesuaikan dengan kapasitas relay yang akan dipakai. Rangkaian diatas dapat difungsikan untuk mengendalikan lampu maupun motor listrik.

Pos Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *